Tonton di YouTube
🎙️ Energi Podcast

Geopolitik, Minyak, & Energy Security Indonesia

Wawancara mendalam bersama Arcandra Tahar — mantan Menteri & Wamen ESDM — dipandu Helmy Yahya tentang strategi energi global dan posisi Indonesia.

4Strategi Utama
3Cara Geopolitik
90+Menit Konten
1973Krisis Energi Dunia
"

Siapapun presidennya, keputusannya itu tinggal bagaimana cara melaksanakannya. Ini adalah strategi energy security, terutama Amerika.

— Arcandra Tahar, Mantan Menteri ESDM

20 JtBarel/hari kebutuhan Amerika
#1Cadangan minyak: Venezuela
55%Konsumsi batu bara dunia oleh China
90Hari cadangan strategis minimum (IEA)
1973Tahun krisis energi pertama Amerika

4 Strategi Energy Security Global

Berdasarkan analisis Daniel Yergin dalam buku The Prize dan The Quest, terdapat empat cara negara mengamankan pasokan energinya.

⚔️

By Military

Menggunakan kekuatan militer untuk mendapatkan sumber energi. Contoh: Jerman menyerang Polandia (batu bara), Jepang menyerbu Indonesia (minyak Plaju, Balikpapan, Sorong).

PERANG DUNIA II
🏛️

By Politics

Tiga cara: (1) Barter keamanan untuk volume minyak, (2) Mengganti kepemimpinan nasional negara target, (3) Menguasai jalur perdagangan strategis.

PASCA WW2
📊

Technocratic

Pendekatan dagang: membangun national oil company yang kuat di luar negeri. Volume dibawa pulang, bukan uang. Contoh: Jepang (Inpex), Korea, China, Petronas Malaysia.

JEPANG · KOREA · CHINA
🌪️

Destabilisasi Kawasan

Menjaga kawasan kaya energi tetap tidak stabil agar negara produsen tidak dapat menasionalisasi atau mempersenjatai minyaknya. Terjadi di Timur Tengah secara berulang.

TIMUR TENGAH

Postur Energy Security Negara-Negara Kunci

Negara Strategi Utama Cadangan Minyak Instrumen Kunci Kasus Historis
🇺🇸 Amerika Serikat By Politics + Militer Impor 7–8 jt barel/hari (net) PetrodolarMiliterSPR 90 hari Marshall Plan, Arab Saudi, Irak, Venezuela
🇸🇦 Arab Saudi Barter Keamanan Top 2 dunia OPECAramcoPetrodolar Embargo 1973, Perjanjian Keamanan AS
🇨🇳 China Technocratic Impor besar CIPSYuanBRI Masuk Iran: bayar infrastruktur dengan oil
🇯🇵 Jepang Technocratic Hampir nihil domestik Inpex200 hari SPR WW2: serbu RI, kini Masela Block
🇷🇺 Rusia Senjata Gas (Weaponized Energy) Top 3 dunia GazpromNordstream Tutup gas ke Eropa Barat musim dingin 2000-an
🇮🇷 Iran Weaponized Strait Top 3 dunia Selat HormuzYuan Nasionalisasi oleh Mossadegh 1952
🇮🇩 Indonesia Belum konsisten (PR) Net importer PertaminaBatu BaraGeothermal Cadangan operasional 20–21 hari saja
🇲🇾 Malaysia Technocratic Luar negeri > dalam negeri Petronas Petronas bersaing setara IOC global

Angka-Angka Energi Global

Cadangan Minyak Dunia (Estimasi)

Berdasarkan perbandingan dalam wawancara

Konsumsi Batu Bara Dunia

China mendominasi lebih dari 50% konsumsi global

Kebutuhan vs Produksi Minyak AS

Amerika tetap net importer meskipun shale oil booming

Cadangan Strategis: Perbandingan

Berapa hari cadangan yang dimiliki berbagai negara

PLTU vs PLTS: Matematika Energi

Penjelasan Arcandra Tahar tentang mengapa mengganti PLTU dengan PLTS bukan perbandingan 1:1.

🏭

100 MW PLTU Batu Bara

Beroperasi 24 jam/hari.
Energi yang dihasilkan:
100 MW × 24 jam = 2.400 MWh

BASE LOAD · 24 JAM
☀️

100 MW PLTS (Surya)

Hanya beroperasi ~6 jam/hari.
Energi yang dihasilkan:
100 MW × 6 jam = 600 MWh

INTERMITEN · 6 JAM
📐

Rasio Penggantian

Untuk menggantikan 1 unit PLTU 100 MW, dibutuhkan 4× lipat PLTS + baterai storage untuk malam hari.

4× INVESTASI
🌿

Geothermal: Base Load Hijau

Berbeda dengan angin dan matahari, geothermal bisa beroperasi 24 jam seperti batu bara. Indonesia punya potensi besar.

INDONESIA · 24 JAM

🌴 Sawit vs PLTS: Perbandingan Lahan

🌴
1 HEKTAR SAWIT

Vegetasi lebat, menghasilkan oksigen, ada ekonomi lokal di bawahnya

100–200 HA PLTS = 100 MW

Vegetasi di bawah hilang, tanah tertutup panel, tidak produktif

"Kalau PLTS ini ditanam di gurun, good. Seperti di China, di Arab Saudi, di Australia, karena itu bukan tanah produktif. Kalau tanah subur kita tumbuhi PLTS, mungkin coba kita lihat mana yang lebih rusak." — Arcandra Tahar

Kronologi Peristiwa Energi Kunci

1930-AN
Jerman Kembangkan Minyak Sintetis dari Batu Bara
Tanpa sumber minyak, Nazi Jerman mengembangkan teknologi Fischer-Tropsch untuk mengolah batu bara menjadi bahan bakar pesawat dan tank.
1939
Jerman Serang Polandia — Perang Dimulai
Polandia diserang pertama karena memiliki cadangan batu bara terbesar. Ini adalah strategi militer untuk energy security.
1941
Embargo Minyak AS → Jepang Serang Pearl Harbor
Amerika embargo 80% pasokan minyak Jepang. Jepang marah, menyerang Pearl Harbor. Lalu menyerbu Asia Tenggara termasuk Indonesia untuk mendapatkan minyak Plaju, Balikpapan, dan Sorong.
1944–45
Pasca WW2: Hadiah untuk Amerika
Marshall Plan membangun Eropa dengan uang Amerika. "Hadiahnya" adalah lapangan minyak besar di Arab Saudi — cikal bakal Aramco (Arabian American Company).
1952–53
Mossadegh Dinasionalisasi, BP Pergi, Syah Iran Masuk
Iran nasionalisasi Anglo-Persian Oil Company. Inggris marah, BP lahir. Amerika gantikan Mossadegh dengan Reza Pahlavi. Amerika dapat 60%, BP 40%.
1956
Gamal Nasser Nasionalisasi Terusan Suez
Mesir ambil alih Terusan Suez dari Prancis-Inggris. Kapal harus memutar 14–15 hari lebih lama. Amerika respons dengan kuasai Terusan Panama (via Noriega).
1973
OPEC Embargo Amerika — Krisis Energi Pertama
Raja Faisal marah karena Amerika bantu Israel di Perang Yom Kippur. OPEC embargo Amerika. Amerika deklarasikan energy crisis — pertama kalinya dalam sejarah. "Weaponized oil" lahir.
1974
IEA Berdiri — Cadangan 90 Hari Jadi Standar
International Energy Agency dibentuk. Negara OECD wajib punya cadangan strategis minimal 90 hari. Jepang bahkan menyiapkan 200 hari.
1979
Khomeini Gulingkan Syah Iran
Revolusi Iran. Inggris dan Amerika hengkang dari Iran hingga hari ini. Dimulailah era konflik panjang Iran vs Barat.
2000-AN
Rusia Gunakan Gas sebagai Senjata vs Eropa
Lewat Nordstream, Rusia tutup aliran gas ke Eropa Barat di musim dingin untuk menekan negara-negara yang tidak sejalan secara geopolitik.
2013–14
Shale Oil Boom — Produksi AS Hampir 2× Lipat
Produksi Amerika naik dari 6–7 juta menjadi 13 juta barel/hari dalam 7 tahun. Namun tetap net importer karena kebutuhan 20 juta barel/hari.
2015
Obama Izinkan Ekspor Minyak AS (Pertama Sejak 1973)
Larangan ekspor minyak sejak era Nixon akhirnya dicabut oleh Presiden Obama.

Insight Penting dari Wawancara

🏆

Pemenang WW2 yang Sesungguhnya

Menurut Daniel Yergin, bukan Sekutu yang benar-benar menang, melainkan Amerika — karena "hadiah" berupa lapangan minyak Arab Saudi yang bernilai triliunan dolar.

💵

Petrodolar: Senjata Ekonomi

Sejak era Nixon, semua transaksi minyak dunia harus pakai dolar, yang kemudian harus disimpan di T-Bills Amerika. Inilah yang mem-backup nilai dolar — bukan emas lagi.

🛢️

Volume, Bukan Uang

Esensi energy security: jaminan volume yang bisa dibawa pulang. "Uang kalau dimasukkan ke kilang, enggak jadi apa-apa, dibakar jadi kertas." Jepang dan Korea paham ini.

🌊

Selat Hormuz: Senjata Terakhir

Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai bargaining chip. Ini adalah bentuk perlawanan negara bersumber daya tapi lemah secara militer dan politik global.

🇮🇩

PR Besar Indonesia

Cadangan Indonesia hanya 20–21 hari (operasional Pertamina). Pertamina harus dikuatkan agar bisa bersaing setara IOC global — seperti Petronas Malaysia yang produksi luar negerinya lebih besar dari dalam negeri.

🌐

Yuan Mengancam Petrodolar

China dan Iran sudah transaksi minyak dengan yuan via CIPS (Cross-border Interbank Payment System), tidak lewat SWIFT. Ini ancaman nyata terhadap dominasi dolar Amerika.

Profil Narasumber

HY
Helmy Yahya
HOST · ENERGI PODCAST

Presenter, pengusaha, dan tokoh media Indonesia. Pembawa acara dengan gaya tanya yang lugas dan menarik dalam mengupas isu-isu strategis nasional.

AT
Arcandra Tahar
MANTAN MENTERI & WAMEN ESDM

Insinyur perminyakan lulusan Amerika dengan keahlian mendalam di sektor energi dan geopolitik. Pernah menjabat sebagai Wamen ESDM dan Menteri ESDM RI. Pakar strategi energy security berbasis tekno-ekonomi.

Wawancara Lengkap

Klik judul bab untuk membuka atau menutup. Tidak ada bagian yang dikurangi atau ditambahkan.

🛢️ Bab 1 — Geopolitik dan Perebutan Minyak

HY
Helmy Yahya (Host)
Barangkali ya, sekarang gonjang-ganjing setelah peristiwa penyerangan terhadap Iran. Tiba-tiba orang sadar. Dan sebelum juga Amerika menyerang Venezuela, bisakah kita simpulkan bahwa itu adalah perang perebutan minyak?
AT
Arcandra Tahar (Narasumber)
Mungkin kita berbeda pendapat di sini ya. Banyak orang mengatakan bahwa ini hanya geopolitik dalam mencari kesetimbangan baru.
HY
Helmy Yahya
Betul.
AT
Arcandra Tahar
Tetapi sebagai orang energi dan membaca beberapa buku yang berkaitan dengan bagaimana sebuah negara menguasai natural resources di negara lain, dan bukunya itu pengarangnya adalah seorang pemenang Nobel ya di Amerika. Itu selalu saya sampaikan, saya membaca buku-bukunya Daniel Yergin.
HY
Helmy Yahya
Daniel Yergin.
AT
Arcandra Tahar
Ya. Dalam buku The Prize. Judulnya aja sudah The Prize.
HY
Helmy Yahya
The Prize. Hadiah.
AT
Arcandra Tahar
Bukan hadiah, ya, prize itu harga. Jadi, beliau mengatakan begini. Setelah Perang Dunia Kedua, dan orang mengatakan pemenangnya itu adalah Sekutu. Beliau mengatakan, bukan Sekutu pemenangnya. Pemenangnya adalah Amerika.

Kalau setiap game ada prize-nya, ada hadiahnya, hadiah pertama yang diterima oleh Amerika adalah lapangan yang baru ditemukan di Arab Saudi. Lapangan minyak besar yang gawat itu. Dan sekarang mungkin masih berproduksi. Hadiah itu diberikan ke Amerika. Amerika mengatakan itu milik saya. Padahal waktu itu daerah Arab dikuasai oleh Inggris. Dibagi-bagi. Yang sebelah timur itu Prancis, sebelah baratnya ke Inggris. Yang UAE, Arab Saudi itu Inggris. Sementara Lebanon, Syria itu kan Prancis. Setelah Ottoman Empire jatuh, diambil alih oleh Prancis dan Inggris. Tapi setelah Perang Dunia Kedua, penguasaan atau pengelolaan sumber daya alam itu beralih kepada apa yang dinamakan strategi by politics.
HY
Helmy Yahya
By politics. Jadi ada politiknya di situ.
AT
Arcandra Tahar
Melalui politik. Berbisnis melalui politik.
HY
Helmy Yahya
Ini bukan bisnis lagi.
AT
Arcandra Tahar
Dia menggunakan power dan politik untuk mendapatkan sumber daya alam.

⚔️ Bab 2 — Strategi Militer: Jerman dan Jepang

AT
Arcandra Tahar
Kalau dalam Perang Dunia Kedua, Nazi Jerman menggunakan cara militer untuk energy security-nya. Seperti yang kita tahu, bahwa di waktu itu Jerman tidak punya sumber daya alam, minyak enggak ada. Tapi mereka berperang dengan apa? Teknologi. Pesawatnya butuh minyak, kapal butuh minyak, tanknya butuh minyak. Tapi minyak mereka enggak punya. Seluruh negara tetangga mereka serang. Nah, di situ kita baru tahu bahwa tahun 30-an itu mereka mengembangkan teknologi batu bara menjadi minyak sintetis. Di zaman itu. Dan minyak sintetis inilah, setelah berhasil, maka dia gunakan sebagai fuel untuk perangnya dia. Dan batu bara terbesar waktu itu cadangannya ada di Inggris, Jerman, dan Polandia. Saat itu mungkin yang di Asia belum ditemukan, atau dianggap kecil (Ombilin dan lain-lain). Nah, pada saat itu maka Jerman ingin mendapatkan batu bara lebih. Negara pertama yang diserang Perang Dunia Kedua? Polandia. Karena Polandia itu yang punya cadangan batu bara besar. Nah, ini yang dinamakan dengan strategi by military untuk mencapai energy security-nya Jerman pada saat Perang Dunia Kedua.

Ini strategi pertama, by military. Dan by military ini juga dilakukan oleh Jepang. Jepang seperti kita tahu, dia tidak punya minyak pada Perang Dunia Kedua. Gimana kapalnya mau jalan? Bagaimana pesawatnya? Nah, dan kita mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Jepang sendiri pada saat itu mendapatkan minyak dari Standard Oil yang miliknya Rockefeller. 80% minyaknya dari mereka, dari New York sana. Nah, 80% ini, waktu Jepang agak genit sedikit, nyebrang ke China. Seperti kita tahu kalau kita nonton film-film kungfu itu selalu dengan China, dengan Jepang. Amerika sudah mengingatkan, "Kamu jangan masuk lebih jauh ke China." Masih masuk lebih jauh ke Shanghai dan seterusnya. Akhirnya, embargolah yang dilakukan oleh Amerika. "Saya embargo, kamu minyak yang 80% tadi tidak diberikan." Marahlah Jepang. Dengan marahnya Jepang, apa yang dilakukan Jepang? Menyerang Pearl Harbor. Maka mulailah Amerika terlibat Perang Dunia Kedua. Jadi, Pearl Harbor itu penyebabnya adalah embargo minyak yang dilakukan oleh Amerika terhadap Jepang.
Jadi, Pearl Harbor itu penyebabnya adalah embargo minyak yang dilakukan oleh Amerika terhadap Jepang.
AT
Arcandra Tahar
Nah, sekarang Jepang mau lari ke mana untuk mendapatkan minyak 80% tadi? Kalau kita lihat penyebaran Jepang ke selatan, dia lengkap Taiwan, lengkap Filipina, dia masuk langsung ke Indonesia. Kenapa? Di Indonesia waktu itu sudah ditemukan minyak oleh Belanda.
HY
Helmy Yahya
Di mana? Pendopo, gitu-gitu ya?
AT
Arcandra Tahar
Belum. Standfak ya. Waktu itu Plaju Sungai Gerong. Kemudian yang di Sumatera Utara itu Pangkalan Brandan. Yang ketiga itu Cepu. Riau belum. Kemudian Balikpapan. Dan yang kelima itu ada di kepala burung dari Irian itu. Dari Sorong ke arah Dabo. Nah, di dekat Babo itulah minyak yang tanpa pengolahan, tanpa refinery, bisa digunakan untuk pesawat langsung. Dan ini jejak sejarahnya: kalau kita mendarat di lapangan terbang itu, bukan dari Sorong ke 1 jam ke arah Dabo, itu bangker-bangker Jepang masih ada sampai sekarang. Di situlah minyak yang dibutuhkan dia untuk berperang.

Nah, Jepang menggunakan kekuatan militer untuk energy security-nya pada saat itu. Dua itu yang pernah menggunakan kekuatan militer untuk men-secure kebutuhan energinya.

🏛️ Bab 3 — Setelah WW2: Politik dan Hadiah untuk Amerika

AT
Arcandra Tahar
Nah, pada saat setelah Perang Dunia Kedua, pemenangnya adalah Sekutu dan Amerika bilang yang menjadi pemenang itu adalah Sekutu. Benar. Tetapi waktu kita lihat Marshall Plan, membangun kembali Eropa, duitnya dari mana? Amerika. Kemudian sewaktu Amerika membantu Marshall Plan, ini dibantu dengan cara apa? Duitnya mau dikasih ke mana? Ke Belanda, ke Inggris, ke Prancis, siapa yang bangun, pemerintahnya, swastanya? Nah, di situlah pertama kali katanya dalam buku itu dikatakan development economic, ilmu ekonomi pembangunan muncul pada saat itu. Nah, di situlah melalui Bretton Woods Agreement yang memunculkan World Bank dan IMF.

Nah, pada saat itulah Amerika mengatakan, "Saya sebenarnya pemenang. Maka hadiah pertama saya adalah Arab Saudi." Nah, inilah by politic yang pertama: mendapatkan volume minyak di mana negara itu berada. Dengan barter, yaitu keamanan negara tersebut.
HY
Helmy Yahya
Proteksi.
AT
Arcandra Tahar
Proteksi. Maka sampai hari ini yang namanya di Arab Saudi, yang boleh masuk cuma Amerika. Aramco adalah Arabian American Company. Enggak ada Arabian American European Company. No. Diop di Amerika. Nah, inilah cara politik menguasai lewat barter keamanan untuk menguasai volume.

🔄 Bab 4 — Cara Politik Kedua: Mengganti Kepemimpinan Nasional

AT
Arcandra Tahar
Cara kedua by politics itu adalah mengganti national leadership negara tersebut.
HY
Helmy Yahya
Itu yang di skenario itu dilakukan berulang-ulang ya?
AT
Arcandra Tahar
Iya, itu dilakukan berulang-ulang. Dan pertama kali dilakukan adalah sewaktu Amerika mengganti Mossadegh tahun '52, '53. Waktu itu di Iran sendiri yang berkuasa kan Inggris, di arah barat ya. Nah, sewaktu Mossadegh berkuasa, Inggris lewat Anglo-Persian Oil Company yang melakukan eksplorasi dan produksi di Iran, itu dinasionalisasi oleh Mossadegh presidennya. Marahlah Inggris. Dan itulah berdiri pertama kali namanya British Petroleum, itu cikal bakal dari Iran. BP pulang ke Inggris. Tahun 53 itulah diganti Mossadegh dengan Syahiran. Syahiran berkuasa, Reza Pahlavi. Amerika masuk kembali, mengatakan minyak milik saya. Marahlah Inggris. Tapi akhirnya berkompromi. Amerika dapat 60%, BP dapat 40%. Anglo-Persian Oil Company kembali ke Iran dengan 40%. Sampai Syah Iran tumbang oleh Khomeini tahun 1979. Semenjak itu enggak ada lagi Inggris dan Amerika sampai hari ini.

Jadi, apakah kejadian sekarang ini history repeat? It could be.

Nah, cara selanjutnya, masih cara menumbangkan national leadership. Bagaimana dengan waktu Kadhafi ditumbangkan? Libya. Bagaimana dengan Saddam waktu ditumbangkan? Irak. Dan yang dua terakhir adalah Venezuela. Venezuela punya cadangan minyak terbesar di dunia. Maduro ditumbangkan dan diganti dengan yang mungkin sesuai dengan keinginan dari bonekanya. Dan yang terakhir adalah Iran, yang pertama dilakukan adalah remove Khamenei, dan berharap ada regime change. Dan inilah cara politik yang kedua, yaitu mengganti pemimpinnya.

Mungkin kita berbeda pendapat, tapi itulah yang saya baca dari buku The Prize tadi dan juga ada buku yang namanya The Quest. Pengarang yang sama. Dan yang terbaru itu The New Map: gimana peta dunia baru setelah perang Ukraina dengan Rusia, lewat Krim, waktu itu lewat pipa Northstream, bahwa ada cara-cara perlawanan dari negara-negara yang merasa pengelolaan sumber daya alam yang tidak fair.

🚢 Bab 5 — Cara Politik Ketiga: Menguasai Jalur Perdagangan

AT
Arcandra Tahar
Saya masuk mungkin lewat by politic yang ketiga itu adalah menguasai jalur perdagangan.
HY
Helmy Yahya
Oh, ini cara ketiga.
AT
Arcandra Tahar
Cara ketiga. Nah, jalur perdagangan yang terbesar itu satu adalah Terusan Suez, dua Terusan Panama, ketiga adalah Selat Hormuz.
HY
Helmy Yahya
Bagaimana dengan Selat Malaka?
AT
Arcandra Tahar
Selat Malaka besar. Tapi dia kalau menurut hemat saya, dalam melihat beberapa hal, banyak solusi atau alternatif untuk menghindari selat itu kalau terjadi krisis. Itu beda dengan Selat Hormuz, beda dengan Terusan Suez dan beda dengan Terusan Panama. Coba lihat: kapan Amerika menguasai Terusan Panama? Waktu Noriega. Akhirnya dikuasai oleh Amerika. Bagaimana dengan Suez? Siapa yang bikin Suez? Prancis sama Inggris, Ferdinand. Sewaktu Gamal Abdul Nasser menjadi presidennya Mesir, di saat itu dilakukan nasionalisasi Terusan Suez. Ributlah Eropa karena kapalnya harus ke bawah, berputar. Bisa 14-15 hari bedanya, selisihnya. Nah, untuk itu Amerika enggak mau kecolongan. Apa yang dilakukan? Menguasai Panama. Karena Terusan Suez dikuasai Mesir sampai hari ini, itu tahun 50-an ya.

Nah, untuk itu, energy security yang penting itulah menguasai jalur perdagangan. Dan ini pernah waktu itu saya diundang 8-9 bulan yang lalu dan pernah saya bahas ini dengan INEWS bahwa hati-hati dengan Selat Hormuz. Karena yang ketiga yang terbesar, kalau ini terganggu, minyak akan harganya bisa enggak bisa diprediksi.

Selat Hormuz ini adalah, kalau kita panjangkan lagi analisanya, ini adalah bentuk perlawanan dari negara yang punya sumber daya alam tapi tidak berdaya secara militer dan politik dunia. Pertama kali kalau saya lihat sejarah yang melakukan itu adalah sewaktu Perang Arab-Israel Yom Kippur tahun '73. Di mana Amerika membantu Israel. Raja Faisal marah. Maka OPEC mengembargo negara-negara yang membantu Israel, terutama Amerika tahun '73. Terjadilah krisis energi. Jadi negara yang pernah mendeklarasikan energy crisis itu adalah Amerika tahun '73. Ribut enggak di Amerika? Ribut. Ya. Nah, pada saat itulah, karena Raja Faisal dan OPEC tidak berdaya, yang dia punya hanya senjatanya dalam minyak, maka dinamakan dengan weaponess oil. Oil yang dipersenjatai untuk melawan. Jadi, oil digunakan sebagai senjata. Itu sudah pernah dilakukan oleh Arab Saudi tahun '73.

Siapa lagi yang pernah melakukan yang ketiga ini? Yang kedua itu adalah Rusia menggunakan Northstream gas yang mengalir ke Jerman. Pada tahun 2000-an, sewaktu dibuka Northstream pertama, Rusia ditekan, Rusia bilang, "Ini winter, gasnya saya tutup, matilah Eropa Barat itu." Dan ini apa? Senjata gas digunakan untuk menekan negara-negara yang tidak sejalan dengan kepentingan geopolitiknya.

Nah, yang ketiga ini yang besar itu adalah Selat Hormuz. Jadi menggunakan Selat Hormuz sebagai senjata untuk menekan pihak yang berkonfrontasi dengan Iran. Jadi ini bukan sesuatu yang out of the blue gitu ya. Semua sudah dipikirkan, sudah ada yang pernah menulis dan menganalisa itu dari awal.

🌪️ Bab 6 — Cara Keempat: Destabilisasi Kawasan

AT
Arcandra Tahar
Kalau begitu ke depan bagaimana? Ya sudah kita lihat aja yang mana mau dijalankan skenarionya. Apakah by politics-nya itu dengan menguasai volume dengan barter geopolitiknya, atau menguasai jalur perdagangan, atau menumbangkan national leadership-nya. Atau cara keempat juga ada: destabilisasi kawasan. Dan ini yang terjadi di Timur Tengah. Timur Tengah itu kalau menurut teorinya, kalau dia aman, yang susah itu negara-negara OECD, negara maju akan susah kalau itu aman. Kenapa? Tahun '73 Amerika sudah merasakan aman. Tahun 70-71-73 mungkin yang trakturnya 67 ya, perang berapa hari dengan Israel. Maka apa dilakukan oleh Arab Saudi? Mengembargo Amerika. Tahun 50-an aman ya, Terusan Suez aman. Apa yang dilakukan Mesir? Dia nasionalisasi itu. Sewaktu BP tenang-tenang di Iran, apa yang dilakukan oleh Mossadegh? Menasionalisasi itu. Jadi, negara-negara maju berpikiran, kalau kawasan ini tenang, kita yang susah. Maka untuk itu harus dilakukan destabilisasi.

Dan ini berkaitan dengan setelah tahun '73 itu, tahun '71 dolar Amerika tidak lagi di-backup oleh emas. Nixon akhirnya tahun '73 itu mengatakan tidak boleh ekspor minyak. Amerika baru boleh ekspor sampai tahun 2015, saat Barack Obama yang baru bisa mengatakan boleh ekspor minyak. Walaupun sampai hari ini Amerika itu negara importir, bukan eksportir.
HY
Helmy Yahya
Importir ya.
AT
Arcandra Tahar
Importir. Dia kebutuhan 20 juta barel per hari.
HY
Helmy Yahya
Bukankah katanya deposit terbanyak oil deposit itu adalah di Amerika, Texas?
AT
Arcandra Tahar
Bukan. Deposit terbesar itu Venezuela. Venezuela sudah dipegang nih.
HY
Helmy Yahya
Nomor satu dipegang.
AT
Arcandra Tahar
Dipegang sudah. Arab Saudi dipegang. Yang tinggal yang mana? Nomor tiga. Iran.
HY
Helmy Yahya
Iran. Nah, inilah skenarionya.
AT
Arcandra Tahar
Dan Rusia juga dimatiin kan. Nah, ini ya, destabilize itu termasuk dysfunctional nasional negara tersebut. Yang didisfungsikan siapa aja? Rusia, Irak, Libya, Syria, Venezuela. Dan ini masuk bagian dalam strategi politik untuk energy security negara. Dan ada yang mengatakan bahwa ini bukan strateginya Trump. That's given. Kan ada yang percaya, saya enggak tahu, ada elite global gitu yang kepentingan. Jadi siapapun presidennya, keputusannya itu tinggal bagaimana cara melaksanakannya. Kalau kita lihat historis ke belakang, siapapun presidennya pasti itu dan ini adalah strategi untuk mengembangkan energy security-nya, terutama Amerika. Karena apa? Dia 20 juta kebutuhan per hari, produksi cuma 12-13 juta. Dia impor. Impor salah satunya terbesar dari Kanada, dari Arab Saudi (dulu besar, sekarang sudah mengecil). Dan kilang-kilangnya Amerika yang di teluk Meksiko itu dipersiapkan untuk heavy oil. Heavy oil itu bisa dari Kanada, bisa dari Venezuela. Jadi Venezuela itu ya minyaknya heavy, harus diproses lagi, enggak gampang prosesnya.

Sementara setelah tahun 2005-an, setelah shale oil itu booming, produksi Amerika waktu itu cuma 7 juta barel, 6-7 juta menjadi 13 juta, hampir dua kali lipat dalam waktu 7 tahun (2013-2014). Dan minyaknya shale oil itu minyak ringan, light oil. Enggak cocok dengan refinery yang ada. Maka shale-nya sedikit yang diekspor. Shale itu dari mana aja depositnya? Dari Texas yang besar, California enggak banyak, di North Dakota, di Colorado, di Pennsylvania. Dari sisi itu, minyak shale oil benar ada yang diimpor, eh diekspor. Tapi net-nya Amerika itu impor 7 sampai 8 juta barel per hari. Jadi sama kayak kita, net importer.

🌏 Bab 7 — China, Jepang, Korea: Cara Teknokratik

HY
Helmy Yahya
Nah, jadi dari cerita ini by military kita cerita, by politics seperti ini. Nah, bagaimana dengan negara seperti China, India, Korea, Taiwan, Jepang? Apakah dia menggunakan cara militer?
AT
Arcandra Tahar
Belum. Belum ada sejarahnya.
HY
Helmy Yahya
By politic?
AT
Arcandra Tahar
Mungkin bukan by politic yang empat tadi. Dia lebih menggunakan cara diplomatik. Itu back door atau backstage, panggung belakang. Tapi yang panggung depan yang melakukan secara terang itu adalah Jepang, Korea, itulah dagang. Itu yang disebut technocratic approach untuk energy security. Dia ada oil company-nya, mendapatkan participating interest di negara lain. Dia enggak mau dibayar dengan duit, volumenya masuk ke negaranya, volume itu yang diolah. Contoh: Jepang ada Inpex di Masela, Korea ada perusahaan, China. Dia tidak bermain politik dan tidak bermain strategi secara militer. "Ya udah kita dagang aja, dan minyak di sana saya masuk invest, tapi volumenya ke negara saya. Saya enggak mau volumenya di sana." Karena dia enggak mau duit. Duit kalau dibakar, masukin refinery, enggak jadi apa-apa. Tapi kalau oil dimasukin refinery jadi minyak, dan itu yang dibutuhkan. Nah, inilah cara yang ketiga: teknokratik.

💵 Bab 8 — Petrodolar, Yuan, dan Ancaman terhadap Dominasi Dolar

HY
Helmy Yahya
Apa yang membuat Amerika terganggu juga adalah gangguan terhadap dominasi petrodolar. Ya, dulu ada perjanjian tahun 70-an itu ya, semua transaksi harus pakai dolar. Sewaktu dia kena embargo, settlement-nya seperti apa?
AT
Arcandra Tahar
Settlement-nya akhirnya, duit yang diperoleh oleh negara-negara petrodolar, oleh negara-negara OPEC tadi, itu transaksi harus menggunakan dolar. Itu yang menentukan siapa? Amerika kan? Nixon ya, di zaman Nixon. Kemudian dolar ini harus disimpan di Amerika di Treasury Bills-nya. Dan ini yang mem-backup dolar, bukan lagi emas. Itu satu yang mem-backup. Nah, T-Bills ini, duit yang disimpan ini, Amerika bilang, "Kamu juga harus gunakan untuk membeli senjata." Jadi oil money for weapon, sekarang bukan weaponess oil lagi, tapi for weapon. Nah, agar ini berjalan, di buku (bukan kata saya, nanti orang mengatakan enggak dibilang), jadi oil money ini untuk senjata, kawasan Timur Tengah harus dibikin apa? Destabilize. Maka berusahalah Kuwait untuk beli senjata, UAE beli senjata, supaya senjatanya laku dan petrodolar terlindungi karena dijamin ada pembelian senjata ke sana.

Nah, yang kedua ini saya baca di buku yang lain, dikatakan selain petrodolar tadi, yang mem-backup dolar itu adalah employment rate-nya di Amerika. Kan penting sekali kalau tiap bulan employment rate. Ternyata employment rate itu yang mem-backup dolar. Dasarnya apa? Kalau unemployment itu turun, berarti employment orang yang bekerja lebih banyak. Amerika yakin orang yang bekerja ini akan menghasilkan devisa. Di situlah dolar nilainya tergantung dari employment rate. Jadi kait-mengkait ini. Ini yang saya baca bahwa oh ada hubungan toh. Kalau kita di Amerika kan lihat tuh, orang sangat perhatian sekali employment rate ini sekian persen, itu menjadi tolak ukur salah satunya. Ternyata inilah yang menjadi dasar apakah dolar kuat atau tidak. Dan pemikirannya, kalau orang bekerja di sana, ini dolar, devisa akan ada. Kenapa? Orientasinya adalah ITECH dan services yang umumnya ke luar negeri, dan di situ akan dapat devisa.
HY
Helmy Yahya
Kenapa pernah terbersit kemarin Iran mengatakan, "Boleh lewat kalau transaksi dengan yuan"?
AT
Arcandra Tahar
Nah, ini cara salah satu cara mengganggu petrodolar yang mem-backup dolar tadi. Kalau sekarang diganggu lewat yuan, dan ini sudah dilakukan oleh Iran. Kenapa? Tadi kita bicara China menggunakan cara teknokratik. Dia dagang aja. Sebelum terjadi gonjang-ganjing ini di Iran, China sudah masuk di Iran. Dia membangun infrastruktur di sana, membangun pabrik, jalan, jembatan. Terus pembayaran pakai dolar enggak? Enggak. Dia bayar minyak. Jadi kontraktor-kontraktor di China, EPCI-nya (engineering, procurement, construction, installation) dan peralatan itu masuk ke Iran, bangun, sama Iran dibayar dengan oil ke oil company China. Oil company China mentranslate itu menjadi yuan. Yuannya dibayar ke kontraktor di sana. Dan payment system-nya dinamakan dengan CPS (Cross-border Interbank Payment System), dan ini sudah berjalan dan tidak melewati SWIFT, yang terlacak. Nanti sekarang kan salah satu yang jadi bargaining Iran adalah bagaimana dananya yang sekian puluh atau ratusan miliar yang dibekukan semenjak tahun 1979 itu bisa kembali. Dia juga tidak mau kalau duit minyaknya sekarang yang ekspornya meningkat (itu juga bisa ditahan), maka dia menggunakan yuan. Dan nanti kalau Selat Hormuz, siapa yang jaga juga? Kalau dia terapkan yuan, mungkin ini salah satu strategi bagi China untuk melemahkan petrodolar. Dan transaksi-transaksi minyak nanti bukan lagi oleh US Dollar tapi oleh yuan. Sebagian begitu.
HY
Helmy Yahya
Dan BRICS itu sangat mengganggu Amerika ya. Benar. Mengganggu petrodolar, mengganggu hal-hal. Karena bukan dengan emas lagi, dengan penjualan minyak. Karena ini adalah sumber energi.

🇮🇩 Bab 9 — Indonesia: Fosil vs Terbarukan, Sawit vs PLTS

HY
Helmy Yahya
Dengan adanya kasus serangan ini, apakah menjadi sangat membuat Indonesia berpikir harus kembali ke fosil, karena kita punya batu bara banyak dan CPO. Bagaimana menurut pendapat Bapak?
AT
Arcandra Tahar
Kalau ini pendapat saya ya, orang selalu kadang-kadang mempertentangkan antara renewable dengan fossil fuel. Kalau saya ditanyai, alangkah bijaknya kita bukan mempertentangkan. Dia harus saling melengkapi. Saling melengkapi, beriringan, jangan saling membunuh. Kenapa? Sampai hari ini, fosil fuel untuk transportasi, untuk kelistrikan. Tapi yang terancam sekarang itu bukan sisi transportasi atau kelistrikan, tapi adalah turunan petrochemical. Misalnya: baju, plastik (kantong kresek sekarang sudah jadi mahal), itu kan fosil fuel, enggak bisa digantikan. Terus sulfur, itu yang dari by product dari refinery menghasilkan sulfur. Nah, tambang-tambang kita yang untuk apa? EPAL gitu itu menggunakan H2SO4 (asam sulfat). Itu dari mana? Banyak dari negara-negara teluk. Sekarang terhenti. Ini juga berakibat kepada processing dari nikel kita. Kalau asam sulfat enggak terpenuhi, banyak impact dari fosil fuel ini yang mempengaruhi hajat hidup kita. Dan renewable energy jangan dipertentangkan, dia akan masuk perlahan-lahan menggantikan dalam porsinya. Jangan dilakukan head to head (harus dibunuh, harus dimatikan). Coba lihat, sekarang Amerika balik enggak dengan batu bara? Balik. Jerman balik enggak dengan batu bara? Balik. China juga balik. Bahkan konsumsi batu bara dunia itu sekitar 8.000 juta ton, 4.200 juta ton itu China. China mengkonsumsi lebih dari 55% konsumsi batu bara dunia.
HY
Helmy Yahya
Kalau begitu, saatnya kita kembali menengok batu bara yang jelas-jelas kita punya?
AT
Arcandra Tahar
Nah, kalau gitu kita bicara teknokratik tadi. Energy security by technocratic. Intinya adalah kita bicara energy security, bukan swasembada. Jadi kita harus bedakan. Swasembada itu dalam bahasa Inggris mungkin self-sufficient. Tapi dalam term-nya energi, bukan self-sufficient. Term kita itu adalah energi independen, kemandirian energi. Itu kalimat pemimpin kita. Jadi kalau energi independen artinya apa? Semua jenis energi yang ada di dalam negeri dipakai, agar ketergantungan kita terhadap impor berkurang. Bukan berkurang, kalau bisa tidak ada sama sekali. Itulah energi independen. Kalau kita punya minyak, batu bara, CPO, renewable energy (air, geothermal). Tidak semua negara dianugerahi geothermal. Kita salah satu negara yang di negeri ini, dan dia bisa berperilaku seperti batu bara untuk men-supply energi kita. Dia bisa sebagai base load 24 jam, hidup. Ini yang membedakan dengan angin dan matahari. Angin dia bisa hidup kalau ada angin. Kalau enggak ada angin, kita enggak dapat listriknya. Mau enggak sewaktu kita menggunakan pembangkit angin, anginnya enggak ada, listrik mati? Kita enggak mau. Gitu juga dengan PLTS (surya), kalau ada matahari. Dan dia tidak bisa 24 jam, hanya bisa 6 jam, dan itu pun kalau enggak ujian. Artinya, behavior-nya itu harus di-backup oleh mungkin fosil, mungkin gas, sehingga sewaktu dia mati ada backup-nya.

Nah, yang kita salah kaprah ini ya kalau menyangkut misalnya orang bicara tentang pensiun dini batu bara (PLTU). Orang bilang gini, kalau ada 100 MW PLTU yang pensiun, maka PLTS bisa menggantikan 100 MW. Enggak. Jadi kalau 100 MW PLTU bisa menghasilkan energi misalnya 24 jam (kita enggak bicara capacity factor, efisiensi, kita bicara matematika biasalah). 100 MW x 24 jam = 2.400 MWh. Kalau PLTS 100 MW hidup 6 jam, 100 x 6 = 600 MWh. Jadi untuk menggantikan 100 MW batu bara, butuh 4 kali lipat PLTS. Investasi masih mahal sekali. Kalau 4 kali lipat, ada mengatakan bisa 5 sen, 3 sen, tapi orang melihatnya mungkin 1 banding 1. Tapi kita bicara 100 MW digantikan oleh 4 kali lipatnya. Dan itu pun kalau malam, yang 3 kali lipat tadi itu harus dimasukkan dalam baterai storage. Kan malam dia enggak ada, dong, baterai berapa? Nah, ini harus dihitung end to end, di life cycle-nya.
HY
Helmy Yahya
Kebayang enggak, ini kadang-kadang saya mikirnya gini. Kita dikritik tentang sawit. Suatu saat saya berpikir gini, saya melihat foto udara. 1 MW PLTS itu butuh 1 sampai 2 hektar tanah hamparan. Kalau saya butuh 100 MW PLTS surya, saya butuh 100-200 hektar. 100 hektar saya tanami PLTS. Saya lihat foto udara dengan 1 hektar saya tanami sawit. Mana yang lebih hijau? Sawit dong. Tanahnya mana yang lebih rusak? Ditanami sawit atau ditanami PLTS? Coba lihat tanah yang ditanami PLTS, di bawahnya vegetasinya hilang, gundul, ketutup. Saya hanya berpikir cara ini aja, logika aja deh. 100 MW, 100 hektar kita tanami PLTS, 1 hektar kita tanami sawit. Mana yang lebih memberikan oksigen? Iya, walaupun sawit ada hitung-hitungannya (monoculture, hungry water). Tapi kita enggak bisa serta-merta mengomparasikan head to head.
AT
Arcandra Tahar
Makanya kalau PLTS ini ditanam di gurun, good. Seperti di China, di Arab Saudi, di Australia, karena itu bukan tanah produktif. Kalau di danau (contoh Jatiluhur), ada rasionya dan tidak mengganggu vegetasi lain. Tapi kalau tanah subur, kita tumbuhi PLTS, mungkin coba kita lihat mana yang lebih rusak. Dan ketidakadilan ini pernah saya sampaikan juga kepada negara-negara Eropa yang mengkritisi sawit. "Kenapa kamu enggak mengkritisi PLTS? Yang lebih merusak dari sisi tanah."

📊 Bab 10 — PR untuk Indonesia: Teknokratik dan Cadangan Strategis

HY
Helmy Yahya
Sudah banyak sekali yang saya dapat nih. Kalau Bapak diminta lagi jadi Menteri ESDM, what will you do? Hypothetical question.
AT
Arcandra Tahar
Hypothetical. Mungkin kalau saya balik gimana? Apakah kita punya masalah di bidang energi? Kelihatannya kalau apa yang kita baca sekarang, pemerintah kelihatannya mampu mengatasinya (perang di Iran, Selat Hormuz). Tapi saya baru pulang dari Palembang kemarin, cari solar itu susah, truk antri. Sumatera Selatan itu punya semua: panas bumi, CPO, gas, batu bara. Kasihan sudah punya, tapi susah. Nah, kalau begitu, kita bicara mungkin distribusi, manajemen. Energy security Indonesia mau ke mana? Pakai cara apa? Militer, politik, atau teknokratik?
HY
Helmy Yahya
Teknokratik.
AT
Arcandra Tahar
Nah, tentu kita bersepakat dulu secara nasional, di level strategi nasional, bahwa kita akan memilih jalur teknokratik. Mungkin di ruangan ini kita bersepakat, tapi di luar nuansanya beda. Nah, untuk itu kalau kita fokus ke teknokratik, apa yang mesti kita lakukan? Kita lihat apa yang dilakukan Jepang. Dia pergi ke luar negerinya, membuat perusahaan minyak nasional yang kuat di luar negeri, bisa bersaing dengan Chevron. Petronas juga: produksi Malaysia yang di dalam negeri atau luar negeri? Luar negeri lebih besar dari dalam negeri. Artinya Petronas mampu mensejajarkan diri dengan international oil companies. Nah, PR kita pertama adalah national oil company kita (Pertamina) harus kuat dan mampu mensejajarkan diri dengan international atau national oil company negara lain. Banyak negara tidak punya volume di dalam negeri (seperti Singapura), tapi dia membuat perusahaan yang kuat di luar negeri sehingga volume itu bisa balik. Kita bersepakat enggak memperkuat ini dulu? Bukan memperkuat, membuat kuat. Dan apa ketakutan kita dengan national company yang harus kuat di luar? Karena governance kita kadang takut dengan kerugian negara. Sementara siklus oil and gas itu bukan linear untung terus, naik turun. Ada tiga hal yang harus kita perhatikan dalam bisnis oil and gas: dua yang tidak kita tahu, satu kita tahu. Dua yang tidak tahu: berapa naiknya harga minyak? (tidak tahu, siapapun tidak tahu). Kapan naiknya? (tidak tahu). Yang kita tahu adalah: kalau dia naik, maka dia akan turun. Kalau dia turun, dia akan naik. Ada siklusnya. Nah, untuk itu, yang kita persiapkan adalah kalau dia naik apa yang akan kita lakukan, kalau dia turun apa yang akan kita lakukan. Salah satu cara: mau naik mau turun, kalau kita punya national company yang kuat yang mampu mensejajarkan diri di luar, volume itu tersedia selalu. Bukan uang. Uang kalau dimasukkan ke kilang, enggak jadi apa-apa, dibakar jadi kertas, jadi abu. Yang kita butuhkan adalah volumenya yang kita bawa pulang. Itulah esensi energy security: jaminan volume yang bisa kita bawa pulang.

Nah, yang kedua, cara depan (dagang depan) secara teknokratik: volume tersedia, jalur tersedia, uang tersedia. Kalau sekarang kan yang masalah kan jalur. Volume ada, uang ada, tapi jalur enggak tersedia. Inilah cara-cara panggung depan secara teknokratik yang dilakukan oleh banyak negara yang tidak punya sumber daya alam di negaranya (Jepang, Korea). Cara belakang yang terang-terangan juga adalah geopolitik, kedekatan power and politic, menggunakan kekuatan diplomatik, kesamaan pimpinan negara, kedekatan emosional. Ini terjadi sekarang dengan satu telepon bisa mendapatkan volume. Tapi yang di depan adalah national oil company-nya. Itu PR kita.

🏦 Bab 11 — Cadangan Strategis vs Cadangan Operasional

AT
Arcandra Tahar
Bagaimana negara maju melihat cadangan dalam masa krisis? Strategic Petroleum Reserve. Setelah Amerika mendeklarasikan energy crisis tahun '73, negara-negara OECD bersepakat membentuk International Energy Agency tahun '74. IEA mensyaratkan negara OECD untuk punya cadangan strategis minimal 90 hari. Kenapa 90 hari? Karena anggapannya waktu itu semua krisis atau perang bisa selesai dalam 90 hari. Tapi ada negara yang 100 hari, Jepang bahkan 200 hari. Dan ini mahal. Coba bayangkan: Amerika impor sekitar 8 juta barel per hari, butuh 90 hari = 720 juta barel yang harus disiapkan storage-nya. Duit mati 72 miliar dolar, belum bunganya. Indonesia kalau impor 1,2 juta barel per hari, 90 hari sekitar 108 juta barel, dikali 100 dolar = 10,8 miliar dolar. Kalau bunganya 10% setahun, volume aja kita harus bayar 1 miliar dolar. Habis PPN. Ini baru dari volume, belum dari infrastruktur. Karena ruang fiskal kita terbatas, yang kita punya sekarang adalah cadangan operasional Pertamina yang 20-21 hari (seperti disampaikan Pak Bahlil). Apa bedanya? Cadangan operasional milik Pertamina, berorientasi pada cost dan risiko. Semakin lama disimpan, cost-nya semakin tinggi. Cadangan strategis, cost enggak masalah karena negara kaya, yang dipentingkan adalah risikonya ditekan sekecil mungkin, 200 hari pun sanggup.

🇳🇴 Bab 12 — Klarifikasi Investasi Norwegia (Statoil/Equinor)

HY
Helmy Yahya
Ada katanya dulu ada perusahaan minyak dari Norwegia yang ingin investasi di Indonesia, tapi tidak mendapatkan tanggapan yang baik. Bisa diklarifikasi?
AT
Arcandra Tahar
Saya coba menjawab seingat saya, semoga tidak melebihkan atau mengurangi. Norwegia masuk ke Indonesia ada oil company-nya, yaitu Statoil (berubah nama jadi Equinor tahun 2018). Statoil dulu punya beberapa lapangan, umumnya deep water. Keahlian mereka tuh. Ada lapangan bernama Karama (2012-13, sebelum saya balik ke Indonesia) di Selat Makassar. Itu sudah dikembalikan ke Indonesia karena tidak menemukan cadangan yang ekonomis. Kemudian yang di Maluku, lapangan Wes Aru (Wesaru 1, Wesaru 2), deep water juga, dan lapangan eksplorasi Aru. Tahun 2016 akhir, mereka selesai eksplorasi dan tidak menemukan cadangan yang ekonomis, gagal. Dikembalikan ke Indonesia akhir tahun 2016. Sementara saya baru menjabat wamen Oktober 2016. Rasanya pada saat itu, karena baru menjabat dan sudah dikembalikan, saya enggak pernah berhubungan dengan Statoil. Kalau yang saya lihat dari unggahan atau podcast ini mungkin dari Pak Dubesnya, Pak Todung. Pak Todung baru diangkat jadi duta besar tahun 2018. Sementara lapangan ini sudah selesai dikembalikan 2016. Jadi ada jeda waktu 2 tahun. Saya ingat benar Pak Todung bertemu saya di kantor, beliau datang. Tapi saya tidak ingat apakah saya diundang ke Norwegia untuk membahas blok yang sudah dikembalikan itu. Biasanya kalau sudah dikembalikan, sudah selesai, tidak ditemukan cadangan yang signifikan atau ekonomis. Kenapa tidak ekonomis? Bisa karena volume tidak mencukupi, teknologi tidak mampu, atau harga minyak/cost terlalu mahal. Jadi dalam oil and gas, kalau satu oil company menyerahkan kembali kepada pemiliknya, pasti salah satu dari tiga hal itu tidak terpenuhi. Silakan dilihat di jejak digital kapan Statoil mengembalikan blok-blok deep water-nya. Saya mohon maaf kalau benar waktu itu saya diundang dan tidak datang atau tidak merespon. Tapi sampai sekarang Norwegia tidak ada yang masuk investasi di energi Indonesia. Setelah 2018, Equinor fokus ke Brasil dan ke Norwegia (Inggris). Jadi kita juga tidak bisa menyalahkan strategi oil company mereka. Memang dalam bisnis ini, yang dibutuhkan investor adalah: 1) Sanctity of the contract (kepastian hukum), 2) ruang fiskal dan insentif, 3) keamanan investasi (fisik, produksi tidak diganggu).
HY
Helmy Yahya
Apakah Indonesia masih menjadi tujuan investasi energi yang menarik untuk investor asing?
AT
Arcandra Tahar
Jawabannya balik ke tiga tadi. Kalau kontrak-kontrak kita di bidang pertambangan energi yang kita sendiri tidak menghargai, tiba-tiba diubah, itu masalah kepastian hukum. Yang kedua, yakin enggak kita punya volumenya? Volume barangnya ada di sini. Itu enggak bisa tebak-tebakan, harus eksplorasi. Orang tanya ke saya, "Pak, ini kita masih punya oil enggak?" Saya jawab, "Iya dan tidak." "Loh kok enggak yakin?" Karena harus lewat eksplorasi, enggak bisa lewat tebak-tebakan. Kalau eksplorasi, mampu enggak kita memberi jaminan kepastian hukum dan keamanan, dalam eksplorasi sekalipun? Itu duit mereka, bukan duit negara. Berapa lama eksplorasi? Tidak ada. Negara baru mendapatkan setelah produksi. Seberapa banyak kita memberikan kemudahan investasi dan izin? Contoh: PGN lewat Saka Energy punya lapangan shale gas di Texas. Saya waktu itu jadi komut PGN, mereka drilling, 2 minggu izin keluar. Sementara di sini, 2 tahun belum tentu. Nah, pertanyaan saya kembalikan: mampu enggak kita memberikan jaminan tiga plus itu? 2 minggu, benar 2 minggu selesai.
HY
Helmy Yahya
Baik, Pak Arsandahar Tahir. Terima kasih, luar biasa ini.
AT
Arcandra Tahar
Terima kasih atas undangannya. Semoga bermanfaat.
HY
Helmy Yahya
Mau ke mana lagi? Itulah wawancara saya dengan mantan Wamen dan mantan Menteri ESDM, Pak Arcandra Tahar, yang penuh dengan furniture. Baru sekali ini saya ngomong, kalau mau tahu tentang energi minyak, ini daging semua. Kita jumpa lagi dengan tamu saya yang hebat lainnya. Bye bye. Terima kasih.
AT
Arcandra Tahar
Terima kasih.